Categories
Agribisnis

Membangun Negeri dengan Komoditas Seksi

Ekstensifikasi atau perluasan lahan pertanian suatu keniscayaan untuk meningkatkan produksi pertanian. Khususnya jagung, penggunaan lahannya menjadi tarik-menarik dengan padi dan kedelai.

Budi Suryanto, Direktur Land Reform, Ditjen Penataan Agraria, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menjelaskan, upaya pemerintah dalam mencapai kedaulatan pangan berupa reforma agraria seluas 9 juta ha, melegalisasi 4,5 juta ha lahan, dan menyiapkan 12,7 juta ha perhutanan sosial untuk masyarakat hingga 2019.

“Artinya, masyarakat kalau akan nanam jagung, bu ah, dan lainnya sekarang diperbolehkan. Diberi izin 35 tahun dan diperpanjang 35 tahun,” ujar Budi. Namun, hutan sosial ini tidak bisa dimiliki masyarakat.

Yang diberikan hak adalah 9 juta ha yang terdiri dari legalisasi aset dan redistribusi tanah masing-masing seluas 4,5 juta ha. Redistribusi tanah juga terbagi dua, yaitu hak guna usaha (HGU) habis atau tanah telantar sebesar 0,4 juta ha dan pelepasan kawasan hutan mencapai 4,1 juta ha. “Peluang petani di sini biar sejahtera,” tegas dia.

Budi menambahkan, potensi lahan tanah obyek reforma agraria (TORA) yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan sektor pertanian mencapai 30 juta ha. Rinciannya, 9 juta ha reforma agraria, 12,7 juta ha hutan sosial, 6,9 juta ha pelepasan kawasan karena perubahan tata ruang, tanah negara lainnya, tanah timbul, dan pe nyelesaian konflik.

“Dari Cirebon, Indramayu, Rawa Subang, sampai Bekasi, ratus an ribu ha tanah timbul. Itu bisa ditanami jagung,” ulasnya.

Berkaca pada Dompu

Jika ingin memperluas lahan jagung, mari berkaca pada Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat. Bambang M. Yasin, Bupati Dompu, berhasil membangun da erah nya mengandalkan agribisnis jagung sebagai komoditas unggulan melalui pro gram PIJAR (Sapi, Jagung, Rumput Laut).

Sebelum 2010, kata Bambang, kemiskin an di NTB paling tinggi ada di Dompu. “Setelah menanam jagung, kami meng alahkan semua kabupaten di NTB. Pendapatan perkapita tertinggi di NTB itu Kabupaten Dompu.

Ada anekdot, rasio kepemilikan kendaraan tertinggi di Indonesia ada di Dompu,” ungkapnya semringah pada Diskusi Rembug Jagung Nasional di Jakarta beberapa waktu lalu. Bambang memilih jagung karena bisa melibatkan masyarakat dalam jumlah besar sebagai pelaku usaha dan mereka juga sudah familiar bertanam jagung secara turun-temurun. Di samping itu, potensi pengembangan lahan jagung di Dompu sangat luas, baik lahan marginal, tegalan, tadah hujan, maupun lahan bekas perladangan.

Teknologi budidaya jagung juga sederhana dan murah ongkosnya. Sementara, pangsa pasar jagung terbuka lebar sebab Indonesia membutuhkan banyak jagung hingga melakukan impor.

Identifikasi Lahan

Pertama kali menjabat sebagai Bupati Dompu pada Oktober 2010, Bambang membangun agribisnis jagung dengan membentuk satuan pelaksana pengembangan komoditas unggulan (satlak) Kab. Dompu sesuai Keputusan Bupati Dompu No. 250 Tahun 2010. Ini sesuai janjinya saat kampanye untuk mengajak warga menanam jagung.

Satlak bertugas memfasilitasi hubungan antara penyedia benih dan sarana produksi, memfasilitas petani dengan bank, dan mengidentifikasi serta menginventarisasi calon lokasi dan calon petani peserta program. “Awalnya kami membagi lahan-lahan pertanian pada tentara yang bertanggung jawab. Satu orang perwira harus ber tanggung jawab 1.000 ha jagung, bintara 100 ha.

Dengan cara kerja seperti itu, kami bisa mengidentifikasi lahan sampai ribuan hektar lahan, lahan-lahan marginal yang tidak pernah dimanfaatkan,” terang Bambang. Mula-mula bupati dua periode itu menanam jagung hanya seluas 6.500 ha dengan benih disiapkan Kementerian Pertanian. “Tetapi lahan yang kami siapkan 12.500 ha. Akhirnya, saya ke mana-mana cari benih dan segala macam sampai berhutang. (Mulanya) kami berharap ada bantuan bank untuk petani. Tetapi karena baru mulai kayaknya nggak terkejar.

Kami pun buat benih dan pupuk sudah terlanjur dipakai dan orang-orang mau membeli karena jaminan bupati,” kisahnya. Pada 2010 produksi jagung Dompu sebesar 30.192 ton lalu menjadi 79.783 ton pada 2011. Produksi ini naik menjadi 150.356 ton pada 2012 dengan luas panen 28.248 ha hingga mencapai 445.813 ton pada 2016 dengan luas panen 60.245 ha.

Tahun ini produksi 604.709 ton pada 2017 diikuti luas panen sebanyak 81.169 ha. “Alhamdulillah berbagai kemajuan luar biasa yang terjadi. Masyarakat yang tidak bisa pasang listrik sekarang sudah beli kulkas, sudah bisa pasang listrik, satu rumah sudah punya tiga motor paling tidak, mobil pikap juga sudah mulai banyak,” papar pria yang pernah menjadi kontraktor sawit itu.

Kini Bambang mengarahkan pembangunan jagung pada implementasi 3K. yakni, kontinuitas, kuantitas, dan kualitas produksi. “Pemerintah Dompu menjamin jagung selalu ada, produksi dalam jumlah besar, dan kualitas harus memenuhi standar industri pakan,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *