Padi Surjan Melipatgandakan Keuntungan

Padi Surjan Melipatgandakan Keuntungan

Menghadapi tantangan pemanasan global yang kian kentara, petani harus semakin kreatif mengembangkan budidaya padi agar tidak terseret ganasnya dampak perubahan iklim ekstrem.

Budidaya padi sistem surjan me nawarkan solusi agar petani sukses memanen padi sekaligus memperoleh keuntung an berlipat-lipat. Penasaran caranya?

Manfaat Surjan

Menurut Dedi Nursyamsi, Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Badan Litbang Pertanian, Kemen terian Pertanian, sis tem surjan bertujuan meningkatkan efisiensi penggunaan air dengan pola tanam hemat air. “Intinya, bagaimana kita memanfaatkan air dalam kondisi yang terbatas,” ujarnya kepada AGRINA.

Selain menghemat air, lanjut Dedi, petani juga akan meraup manfaat luar biasa ketika menanam padi menggunakan sistem surjan. Petani dan meningkatkan diversifikasi tanaman dengan membudidayakan berbagai komoditas pertanian bernilai jual tinggi, seperti kombinasi padi dengan jeruk, mangga, atau jagung.

Cara ini dapat mendatangkan keuntungan di atas dua kali lipat menanam padi. Kombinasi surjan padi dengan jeruk di Kal sel, ungkap Dedi, “Petani bisa umroh tiap tahun karena tanam jeruk sistem surjan”. Bagaimana tidak begitu jika keuntung an menanam jeruknya saja rata-rata sekitar Rp25 juta/panen.

Petani rerata memanen jeruk sebanyak lima kali setahun yang berarti menghasilkan keuntung an Rp125 juta/ha/tahun. Sedangkan hasil tanam padi dua kali setahun sebanyak 12 ton/ha/tahun. Dengan harga gabah Rp4.000/kg, petani akan memperoleh pendapatan sekitar Rp48 juta /ha/musim. “Kalau padi diimbangi de ngan jeruk, ‘kan keuntungannya Rp125 juta.

Peningkatannya dua kali lipat lebih,” terangnya. Di samping itu, padi sistem surjan memberi manfaat mengurangi risiko gagal pa nen akibat serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) atau banjir. Mi sal nya, padi meng alami puso lantaran se rangan wereng. Dengan kombinasi surjan jeruk atau mangga, masih ada tanam an yang bisa dipanen.

Guludan dan Ledokan

Dedi menjelaskan, lahan tanam yang me nerapkan sistem surjan terbagi dua, yaitu guludan untuk tanah bagian atas (up land) dan ledokan buat ta nah bagian bawah (low land). “Ada bagian bawah yang digali lalu galiannya di buat bagian guludan seperti lahan kering.

Di bagian ba wah seperti lahan sawah, ini juga tidak perlu terlalu ba nyak air,” paparnya. Saat musim penghujan, bagian ledokan umumnya ditanami padi dan bagian guludan ditanami dengan tanaman hortikultura buah atau sayuran, seperti jeruk dan mangga.

Sedangkan saat musim kemarau, ledok an diisi jagung dan guludan ditanami kedelai. “Kedelai lebih he mat air daripada jagung. Jagung lebih he mat air daripada padi. Jadi, kita cari varietas-varietas yang tahan terhadap air,” imbuh dia.

Dalam sehektar lahan, petani bisa membuat 5 baris guludan dengan lebar sekitar 2 m per tiap guludan. Sisa lahan ledokan sekitar 18-19 m per baris ditanami padi de ngan pola jajar legowo (jarwo) 2:1. “Karena keuntungan jeruk bagus, satu hektar dibuat jadi 10 baris.

Akhirnya padi yang jadi selingan. Ini kearifan lokal yang diperkaya inovasi teknologi mutakhir,” pungkasnya sambil tersenyum.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *