Srikandi Pembudidaya Lele

Kepiawaian Antien Delmawanti Hamzah dalam budidaya lele jelas bukan lantaran latar belakang pendidikannya, tetapi berawal dari hobi. Wanita yang akrab disapa Del ini sempat berkuliah di Teknik Sipil tetapi tidak selesai lantaran keburu menikah.

Sekarang bersama suaminya, Del mengembangkan budidaya lele sistem bioflok. Nilai konversi pakan (feed conversion ratio-FCR) menjadi tolok ukur utama ketrampilan teknis seorang pembudidaya lele. Wanita kelahiran Malang, 2 Oktober tahunnya rahasia ini terkadang mampu mencapai FCR 0,6 dengan sistem bioflok tanpa atap artinya menghasilkan sekilo lele dari enam ons pakan.

Berawal dari Tertipu

Kemahiran Del membesarkan ikan berjuluk si kumis tersebut buah dari karakternya yang mandiri, tidak mau mengandalkan dan menyusahkan orang lain. “Saya tidak mau kerja dengan orang. Dan memang, saya hobi sama ikan. Jiwa saya memang menjadi pengusaha,” tuturnya ketika mengawali perbincangan dengan AGRINA di Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta Selatan.

Ketika memulai langkahnya sebagai pengusaha lele, Del mengaku tertipu oleh oknum. “Awalnya saya buta soal budidaya dan akhirnya belajar secara otodidak,” kisahnya. Pada 2007, seorang temannya menyodorkan proposal tentang budidaya lele. Tergiur dengan proposal tersebut, ia pun menginvestasikan uangnya hingga ratusan juta rupiah. Tapi naas, tiga kali investasi dengan total hampir sekitar Rp1 miliar, selalu rugi dan tidak balik modal. Akhirnya ia pun turun langsung mengelola sendiri.

Saat pertama kali terjun budidaya lele, tentu saja ibu tiga anak ini masih sangat awam. “Mau berusaha mengelola sendiri tapi malah kena tipu. Dapat benih yang sakit,” ceritanya pahit. Bahkan tanah yang dibelinya untuk lokasi kolam di daerah Parung, Bogor, pun memiliki tiga sertifikat atas nama tiga orang yang berbeda.

saya lebih suka melatih perempuan melakukan budidaya di daerah tersebut, Del merugi lantaran farmnya banyak kehilangan. Mulai dari komponen sarana produksi hingga lele yang dipelihara. Pun setelah pindah ke lokasi lain, kejadiannya sama. Belajar dari kegagalan itu, ia sadar untuk tidak menaruh kepercayaan kepada siapa pun 100%. “Percaya sih percaya tapi jangan dilepas, harus tetap dikontrol,” sarannya.

Karena itu ia menyarankan, faktor utama keberhasilan budidaya adalah pemilihan lokasi yang strategis dan aman. Daerah Bogor dipilih karena dekat dari pasar, tapi harus diperhatikan juga tingkat keamanan tempatnya.

Tidak seperti sebagian orang yang menjadikan budidaya lele sebagai sampingan, bisnis lele merupakan usaha satu-satunya bagi Del. Jadi mau tidak mau ia harus berhasil. Karena itu ia berencana untuk membuka farm baru di lokasi yang lebih aman.

Melatih Perempuan

Pengalaman buruk itu belum berakhir. Sewaktu Kegagalan demi kegagalan tidak membuat Del menyerah. Sebagai seorang wanita, ia merasakan betapa pentingnya menjadi mandiri. “Perempuan harus kuat secara finansial dan manajemen, jadi harus cerdas,” cetus pemilik Mina Srikandi Farm ini.

Disamping memiliki semangat juang yang tinggi, ia juga berpikir bagaimana caranya bermanfaat bagi masyarakat. Menurut wanita berperawakan kecil ini, dengan berkontribusi melalui penyediaan pangan secara tidak langsung, ia juga berperan terhadap kelengkapan gizi masyarakat.

Karena keseriusannya menggeluti budidaya lele, ia dipercaya menjadi mitra Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kemitraan itu terjalin dalam bentuk Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan & Perikanan (PPMKP) sebagai wadah edukasi kepada masyarakat. Kini, ia pun sedang menjalin kerja sama dengan Sekolah Tinggi Perikanan untuk melatih para taruna berbudidaya lele.

Secara pribadi, ia lebih suka melatih pelaku bisnis lele dari kalangan wanita atau ibu-ibu. Alasannya, wanita bisa lebih detail dan perhitungan dalam urusan pakan. Dan tentu, supaya para perempuan bisa lebih mandiri. “Saya punya waktu yang sangat lebih untuk diskusi dengan perempuan, feelnya dapet,” kilahnya.

Del mencontohkan sukses Endah, salah satu peserta pelatihannya. Mula-mula Endah mencoba budidaya dengan sistem bioflok yang dibina orang lain, tapi terus gagal. Setelah mendapat ilmu darinya, Endah masih gagal pada satu-dua percobaan awal. Dengan komunikais yang intensif, percobaan ketiga dan seterusnya membuahkan hasil lebih baik. Bahkan, kini FCR lele Endah sudah biasa di kisaran 0,7-0,8.

Tambang Emas Hidup

Selain melatih teknis budidaya, Del juga menyarankan para wanita yang produksi lelenya masih skala kecil untuk menjual langsung ke pengguna akhir (end user). “Kalau produksinya sedikit dijual ke tengkulak ya nggak bisa mencukupi kebutuhan. Sebaiknya tambah modal bumbu dikit, diulek, terus dijual ke ibu-ibu sibuk,” ajaknya.

nennya menjadi lele berbumbu karena hanya ditawar Rp15 ribu/kg oleh tengkulak. Hasilnya, sekarang rekannya itu bisa menjual lele bumbu dengan harga sekitar Rp30 ribu/kg. Tentunya itu lebih menguntungkan.

Del mengaku, memang senang memprovokasi para wanita. Selain Endah, ada Santi. Murid pelatihannya ini lulusan S3 Perancis yang sekarang menjadi “tukang” lele bumbu. Setiap hari ia mengantarkan anaknya sekolah dengan mobil yang telah dimodifikasi menjadi cooler. Mengkreasikan lele berbumbu lengkap dengan sambal di kemasannya, Santi mendulang sukses.

Dalam pandangan Del, lele memang tambang emas hidup. “Kalau bicara panen per tiga bulan memang lama tapi kalau dalam tonase masih oke. Nah, sekarang nggak usah muluk-muluk. Usahakan saja bagaimana caranya bisa panen setiap hari satu kuintal,” ujarnya. Galuh Ilmia C.

Pembudidaya disarankan bisa panen satu kuintal sehari kemudian menjualnya ke jaringan bioflok. Jaringan bioflok ada yang mau membeli dengan harga Rp18 ribu/kg. Anggaplah harga pokok produksi (HPP) standar Rp14 ribu/kg. Jika panen satu kuintal, maka sehari bisa mendapat untung Rp400 ribu/hari. Tapi kembali lagi, Direktur PPMKP ini menegaskan, budidaya lele merupakan budidaya titen (teliti) dan tidak semua orang bisa. Jadi, tak kiranya ia lebih merekomendasikan perempuan sebagai pelaku bioflok karena kaum hawa relatif lebih telaten dan njelimet untuk perhitungan pakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *