Bagaimana Mencari Dana Peremajaan?

Kemitraan dengan Perusahaan Perkebunan Bila soal sertifikat sudah beres, langkah berikutnya untuk mendongkrak produktivitas kebun petani adalah mendekatkan mereka dengan praktikpraktik korporasi. Kemitraan tidak hanya bisa berlangsung antara perusahaan perkebunan dengan petani plasma yang bernaung di bawah koperasi. Ada juga perusahaan yang membina petani swadaya di sekeliling tempatnya beroperasi. Kemitraan seperti itu dilakukan PT Asian Agri yang berlokasi di Riau, Sumut dan Jambi. Menurut Freddy Widjaya, bergandeng tangan dengan petani amat penting bagi perusahaan sawit yang menjalankan kemitraan sejak 1986 ini. Pasalnya, “Dari 1 juta ton le bih produksi kami, 50%-nya datang dari petani, yaitu 25% petani plasma dan 25% petani swadaya,” ujar Direktur Asian Agri itu. Sekarang perusahaan yang menguasai 100 ribu ha kebun ini bermitra dengan 29 ribu petani plasma yang memiliki 60 ribu ha kebun.

Dengan berlalunya satu siklus kebun sawit, 25-30 tahun, petani harus meremajakan kebun mereka. Prosesnya di lapangan tidak mudah. “Kami mulai proses sosialisasi peremajaan sejak 2010. Melalui berbagai pelatihan, studi banding, juga pemberian motivasi, akhirnya baru terlaksana perdana pada 2016 dengan bantuan hibah BPDP Kelapa Sawit,” jabar Freddy. Pada 2011 Asian Agri mulai melakukan pembinaan ke petani swadaya di sekitarnya. Petani yang tadinya menikmati produktivitas rendah, sekitar 12 ton/ha TBS atau 1,5 ton CPO/ha/tahun diberi berbagai pelatihan untuk meningkatkan produksi sampai mendekati potensi genetik benihnya, 18 ton TBS setara 3,4 ton CPO/ha/tahun. Kemudian, petani ditawarkan peremajaan dengan benih unggul keluaran perusahaan yang berpotensi hasil 35-40 ton TBS atau 10 ton CPO/ha/tahun. Untuk mengajak petani swadaya meremajakan kebun, menurut Kevin Tio, Managing Director Asian Agri, melalui dua tahapan. “Kita sadari genetika benih mereka sudah tidak cocok tapi kita tingkatkan dulu produktivitas kebun dengan pengelolaan yang baik,” tutur Kevin kepada AGRINA.

Selanjutnya perusahaan membantu akses kelembagaan dengan membentuk gapoktan dan koperasi, memberi pendampingan praktik budidaya yang baik hingga menyediakan infrastruktur, seperti perbaikan akses jalan. “Ketika ada kesempatan baru kita bicara tentang peremajaan. Peremajaan itu perlu kesiapan yang luar biasa,” lanjutnya. Hasil pendampingan mendatangkan dampak nyata. Produktivitas naik, harga jual meningkat. Akhirnya, penghasilan petani membaik. Contoh sukses petani binaan ini adalah Asosiasi Petani Swadaya “Amanah” yang berhasil meraih sertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan ISPO. Freddy membeberkan, luas binaan kebun swadaya mereka terus bertambah, mulai dari 2.000 ha men jadi 24.500 ha pada 2016. Target tahun depan mencapai 40 ribu ha. Pihaknya berkomitmen melak sanakan one on one partnership, setiap hektar ke bun inti, didampingi satu hektar kebun petani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *