Budidaya Benih Tepat, Hasil Selamat

Budidaya Benih Tepat, Hasil Selamat

Ditjen Hortikultura, Kementan, meng klaim, dalam kurun tiga tahun terakhir, impor bawang merah mengalami penurunan yang sangat signifikan. Pada 2014, impor komoditas bernama ilmiah Allium cepa ini sebanyak 74.903 ton. Kemudian mengalami penurunan pada 2015 pada angka 17.429 ton hingga menyentuh angka nol pada 2016. Penurunan impor ini tentunya harus dibarengi dengan produksi bawang merah dalam negeri agar pasokan tetap tersedia. Pada 2017, pemerintah sudah menyusun manajemen pola tanam bawang merah secara nasional dengan target produksi sekitar 1,684 juta ton. Untuk April saja, Kementan menargetkan produksi umbi bawang merah sebanyak 132 ribu ton dengan prediksi total kebutuhan sekitar 98 ribu ton. Sedangkan untuk Mei, target dipatok sebanyak 150 ribu ton dengan total kebutuhan sekitar 110 ribu ton. “Saat ini pasokan bawang merah menjelang Ramadan dan Idul Fitri terpantau aman,” terang Spudnik Sujono, Dirjen Horti kultura (20/3). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, menurut Dirjen, diperlukan benih bawang merah berkisar 13 ribu -15 ribu ton per bulan.

Butuh Benih Unggul

Kunci keberhasilan budidaya bawang merah pada musim hujan tentu saja benih unggul yang dapat meminimalkan kegagalan panen. Pada pameran hortikultura bergengsi di Asia, Horti Asia 2017 di Bangkok bulan lalu, AGRINA berkesempatan menggali lebih dalam tentang benih bawang me rah yang cocok untuk iklim tropis. Menurut Rob Bekker, Market Specialist untuk Bawang dari De Groot en Slot, perusahaan benih asal Belanda, pihaknya telah melakukan penelitian intensif lebih dari 30 tahun tentang varietas daerah tropis. “Penanaman bawang merah langsung dari biji meminimalkan risiko terkena penyakit daripada penanaman dari umbinya,” jelas Bekker. Memang, di lapangan, pembenih seperti Yuliana Rosmalawati asal Brebes, Jateng, mengkhawatirkan timbulnya penyakit yang menyerang pada musim hujan. Na mun, sarjana pertanian ini melakukan pen cegahan dari awal supaya tetap ber produksi maksimal.

Saat ini, wanita yang akrab disapa Yuli itu tengah mencoba beberapa varietas untuk dibudidayakan. Salah satunya, meng gunakan biji bawang merah tropis hibrida yang dikembangkan perusahaan asal Negara Kincir Angin tersebut. “Varietas benih tropis hibrida kami memiliki daun yang tegak dan tebal sehingga dapat meminimalkan pertumbuhan cendawan pada kondisi lembap atau basah,” promosi Bekker. Bawang merah hibrida keluaran perusahaannya dapat disimpan lebih singkat, potensi hasilnya ting gi, umbinya mudah dikupas, dan yang terpenting, sangat cocok ditanam saat musim hujan. Dengan penanaman dari biji, terang Yuli, bisa jadi peluang usaha baru untuk petani. “Harga biji lebih murah dari umbi jadi sebenarnya petani bisa mengembangkan usaha persemaian dari biji,” ungkapnya.

Antisipasi Penyakit

Jatuh-bangun berbisnis benih bawang merah dikatakan Yuli sebagai hal yang lumrah. Ada kalanya rugi, tapi tak jarang juga dapat un tung yang “wah”. Tapi, demi memaksimalkan po tensi hasil panennya, ia berusaha sebaik mungkin berproduksi benih di lahan yang memberinya penghidupan itu. Pada musim hujan, ibu tiga putra itu mengeluarkan ongkos produksi sekitar Rp144 jutaan/ha untuk benih dari biji dan Rp181 jutaan/ha untuk benih dari umbi. “Untuk saprotan (sarana produksi) habis sekitar Rp42 jutaan. Jenis pupuk dan perawatan tanamannya macam-macam. Ada pupuk yang disemprot ke daun juga,” terangnya. Gilang Permana Putra, Product Manager PT Nufarm Indonesia menjelaskan, pada peralihan musim hujan ke musim kemarau penyakit yang dominan menyerang adalah bercak ungu (trotol) dan layu fusarium (moler). “Trotol diakibatkan jamur Alternaria porri dan moler oleh jamur Fusarium oxysporum. Jika serangannya tinggi, kegagalan bisa 80% hingga puso,” paparnya. Karena itu, Gilang mengan jurkan, antisipasi trotol dengan fungisida sistemik berbahan aktif prokimidon 50%. Dengan konsentrasi 1 g/l, tanaman bawang merah disemprot dari umur 14 HST – 55 HST. Sedangkan untuk moler, petani dapat mengaplika sikan 0,75 ml/l – 1,5 ml/l fungisida berbahan aktif propikonazol 150g/l + dife nokonazol 150 g/l pada tanaman berumur 15 HST – 55 HST.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *